Selasa, 11 Desember 2018, WIB


Kawasan Industri Sumatera Dipacu

Kategori : Lainnya


JAKARTA - Pemerintah akan memacu pembangunan kawasan industri di pulau Sumatera, yang akan menyasar pada titik-titik pertumbuhan di sepanjang garis Selat Malaka. Sumatera dirancang menjadi pusat pertumbuhan industri yang berbasis pertanian (agro) dan batubara.

Dirjen Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Dedi Mulyadi mengatakan, pengembangan kawasan industri di Sumatera mendesak dilakukan agar terjadi pemerataan pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi tidak hanya terpusat di Jawa. Sedangkan sistem logistiknya akan lebih banyak memanfaatkan jalur laut dan kereta api.

"Kemenperin tengah melaksanakan kajian dan menyampaikannya kepada pemda. Pemerintah pusat berperan sebagai pemacu dan fasilitator insentif,"kata dia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Kawasan industri yang pertama dan paling siap segera dikembangkan adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei di Simalungun, Sumatera Utara. Kawasan industri berbasis industri agro ini siap dikomersialkan menyusul telah diterbitkannya Peraturan Derah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Simalungun No 10 Tahun 2012, sehingga status lahan siap diperbarui menjadi lahan industri.

Kemenperin mencatat, sudah ada 10 investor yang berminat investasi di Sei Mangkei. Total lahan yang diminati investor mencapai 200,35 hektare (ha). Investor akan membangun industri pengolahan hilir dan pembangkit listrik (powerplant) berbasis minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

"Hal itu sesuai dengan klasterisasi yang ditetapkan untuk Sei Mangkei, yakni untuk pengembangan industri berbasis CPO,"ujarnya. PT Sinergi Oleo Nusantara akan membangun pabrik di atas lahan 17,39 ha. Nilai investasinya diprediksi mencapai Rp 3,74 triliun. Kemudian, PT Unilever Oleochemical Indonesia akan investasi sebesar Rp 2,45 triliun di atas lahan seluas 27,39 ha. PT Cipta Buana Utama Mandiri akan membangun pabrik pupuk senilai Rp 537 miliar di atas lahan seluas 20 ha.

Selain itu, ada PT JVL Nusantara Pertama yang akan investasi di atas lahan 20,42 ha. Kemudian, PT Nergy Uni Resources PTE LTD membutuhkan lahan 28,15 ha. Ada juga rencana konsorsium PTPN III dengan PTPN IV yang akan menggunakan lahan seluas 25 ha.

PT Aneka Gas akan menggunakan lahan seluas 2 ha. Sementara itu, tiga investor lain, yakni PT Sumitomo, PT Shimizu, dan PT Cistercienze meminati total lahan seluas 60 ha di Sei Mangkei.

Guna mendukung pembangunan kawasan industri itu, pemerintah tengah menyiapkan pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan ke pelabuhan Kuala Tanjuhg. Pemerintah sedang berupaya menyelesaikan persoalan pembebasan lahan untuk pembangunan jalur kereta tersebut, yakni yang terletak di Kabupaten Batubara.

Sedangkan Kuala Tanjung bakal terus dikembangkan, sehingga akan naik kelas menjadi pelabuhan berkapasitas internasional. Dengan demikian, lalu lintas dan sistem logistik kawasan industri Sei Mangkei nantinya menjadi lebih efisien dan efektif.

Saat ini, kedalaman air laut di pelabuhan Kuala Tanjung baru mencapai 14 meter dan bisa dikembangkan lagi menjadi 20 meter. Daya tampung kapal bersandar dirancang 60 ribu ton bobot mati (dead weight tonnage/DWT) dari saat ini masih 30 ribu DWT.

Direktur Pengembangan Fasilitasi Industri Wilayah I Ditjen Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan menambahkan, daerah di sekitar Sei Mangkei juga akan dikembangkan menjadi kawasan industri berbasis empat aset, yakni air, pemurnian (smelter) alumina, pelabuhan, dan potensi dari lokasi di sekitar kawasan tersebut.

Diajuga menyampaikan, pengembangan pelabuhan Kuala Tanjung sudah sejalan dengan pembangunan kawasan industri di Sumatera Utara agar lalu lintas distribusinya menjadi efektif. Selama ini, pelabuhan tersebut hanya dimanfaatkan untuk pengiriman dari dan ke pabrik aluminium PT PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

"Setelah diekspansi dan pembangunan kawasan industrinya selesai, pelabuhan itu akan menjadi daerah lintasan perdagangan yang ramai dengan memanfaatkan Selat Malaka,"tutur Putu.

Kawasan Lain

Selain Sei Mangkei dan kawasan sekitarnya, lanjut Dedi, pemerintah pusat juga mendorong pembangunan kawasan industri di Sabang, Aceh sebagai pusat perekonomian berbasis pariwisata dan perdagangan. Sabang akan dimanfaatkan sebagai titik persinggahan kapal-kapal pesiar dan pedagang yang mencari bahan baku dan produk rotan.

Aceh Besar juga tengah mempersiapkan pembangunan sebuah kawasan industri. Saat ini, pembebasan lahan di daerah tersebut tengah dilakukan.Pembangunan kawasan industri di Sumatera juga difokuskan pada titik-titik pertumbuhan di Tanjung Buton, Provinsi Riau, untuk yang berbasis penunjang migas. Kemudian, pembangunan kawasan industri berbasis thin chemical di Muntok, Bangka Belitung, yang berdekatan dengan Provinsi Sumatera Selatan.

Pengembangan kawasan industri pun dipacu ke Muara Enim, Sumatera Selatan, yang berbasis hilirisasi batubara, yakni gasifikasi dan kimia. Pembangunan kawasan industri Teluk Semangka di Provinsi Lampung, yang berbasis maritim juga akan dipacu.


  INFO TERKAIT